Make your own free website on Tripod.com
Panduan Pelatihan
Panduan pelatihan yang praktis (dengan Panduan Kegiatan), disusun untuk mengalihkan pengetahuan dan keterampilan baru, dan menetapkan jenis pelayanan baru dengan menggunakan Pendekatan Pelayanan yang Bermutu. Panduan pelatihan menyajikan sesi secara garis besar, informasi teknis dan semua alat bantu pelatihan yang dibutuhkan antara lain: transparansi OHP, bahan studi kasus, dll, yang menggunakan tehnik pelatihan partisipatif.
   
Total Quality Management (TM1/5) - Buku panduan pelatihan ini disusun sebagai salah satu panduan bagi pelatih, fasilitator dan para staf di Tingkat Propinsi dan Tingkat Kabupaten. Panduan ini diharapkan dapat membantu mereka untuk dapat melaksanakan pelatihan/lokakarya berdasarkan pendekatan "Daur Belajar Berdasarkan Pengalaman". Untuk itu diharapkan pelatih atau fasilitator mampu menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan di dalam memproses terjadinya proses belajar dengan berbagai metoda dan teknik yang memungkinkan terjadinya dinamika dalam proses belajar.
   
Manajemen Daur Proyek dan Penggunaan Kerangka Kerja Logis (TM2) - Buku panduan pelatihan ini disusun sebagai salah satu panduan bagi pelatih, fasilitator di Tingkat Propinsi dan Tingkat Kabupaten. Panduan ini diharapkan dapat membantu mereka untuk dapat melaksanakan pelatihan/lokakarya berdasarkan pendekatan "Daur Belajar Berdasarkan Pengalaman". Untuk itu diharapkan pelatih atau fasilitator mampu menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan di dalam memproses terjadinya proses belajar dengan berbagai metoda dan teknik yang memungkinkan terjadinya dinamika dalam proses belajar.
   
Penerapan Pendekatan Partisipatif (TM3) - Buku Panduan ini merupakan Buku Pegangan Pelatih - yang lebih menitik beratkan pada proses daripada substansi isi - yang dapat dipergunakan sebagai alat bantu bagi para pelatih atau fasilitator "untuk menciptakan proses belajar". Sedangkan aspek isi dan substansi dapat merujuk pada Buku Panduan Pendekatan Partisipatif Dalam Pelaksanaan Proyek (IG-4), yang dapat pula dimanfaatkan sebagai bahan pegangan peserta pelatihan.
   
Kajian Keadaan Pedesaan Secara Partisipatif (TM4) - Panduan Pelatihan Kajian Keadaan Pedesaan secara Partisipatif' ini dapat digunakan oleh fasilitator pelatihan dari Instansi atau pihak lain yang terlibat dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Isi panduan tidaklah baku namun sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan dinamika yang ada di antara peserta pelatihan dan di dalam wilayah pelaksanaannya. Panduan ini berdasarkan pengalaman program kerja sama Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Inggris dalam proyek DELIVERI selama tahun 1996 sampai tahun 2001 di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
   
Monitoring dan Evaluasi Partisipatif (TM6) - Materi panduan ini terdiri dari beberapa Modul yang mencoba menjawab: Mengapa M&EP, Dasar Pemikiran, Tahapan dan Langkah Operasional serta Faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk memperkaya panduan ini disajikan juga pengalaman program DELIVERI di dalam mengaplikasikan M&EP baik saat beraksi sebagai fasilitator pelatihan, maupun saat menggunakannya di lapangan.
   
Pemberdayaan Masyarakat dalam Praktek (TM7) - 'Panduan Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat' ini dapat digunakan oleh fasilitator pelatihan dari Instansi atau pihak lain yang terlibat dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Isi panduan tidaklah baku namun sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan dinamika yang ada di antara peserta pelatihan dan di dalam wilayah pelaksanaannya. Panduan ini berdasar pada pengalaman program kerja sama Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Inggris dalam proyek DELIVERI selama tahun 1996 sampai tahun 2001 di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. 
   
   
Pengembangan Kelompok Tani (TM8) - Panduan pelatihan ini menguraikan konsep dan tahapan-tahapan secara umum dari proses Pemberdayaan Masyarakat. Pelatihan tersebut sangat penting agar peserta-peserta pada akhir pelatihan memahami konsep serta tahap-tahapan Pemberdayaan Masyarakat dan mampu mensosialisasikan kepada masyarakat. Panduan Pelatihan ini dilengkapi dengan Buku Panduan Kegiatan yang dapat berfungsi sebagai pegangan peserta.
   
   
Perencanaan Partisipatif pada Tingkat Lapangan (TM9) - Perencanaan adalah suatu proses atau kegiatan menyusun rencana kegiatan. Dengan demikian, rencana adalah segala hal yang belum dilakukan dan diharapkan akan dilakukan. Tahap perencanaan partisipatif diawali dengan kajian keadaan pedesaan secara partisipatif dan dilanjutkan dengan pelaksanaan rencana. Dalam pemberdayaan masyarakat, setiap proses perlu dilakukan monitoring dan evaluasi, perencanaan partisipatif tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus melalui tahap proses yang berjalan terus menerus.
Open Acrobat File for Printing Klik di sini untuk versi Acrobat
   
Desentralisasi Pelayanan Kesehatan Ternak (TM10) - Pemberian pelayanan kesehatan ternak oleh pemerintah selama ini dihambat oleh berbagai kendala. Kendala-kendala tersebut antara lain jumlah dokter hewan yang kurang memadai, rendahnya infrastruktur, anggaran yang tidak memadai. Keadaan ini diperparah lagi oleh sistem perencanaan yang sangat sentralistik, sehingga menyebabkan para pimpinan instansi di tingkat daerah amat kaku dan tidak fleksibel dalam memenuhi kebutuhan lokal. Situasi perekonomian dan politik, secara global dan khususnya di Indonesia, menuntut pemotongan secara besar-besaran pengeluaran pemerintah dalam hal pelayanan yang dibiayai oleh negara. Tuntutan lain adalah peningkatan transparansi dan akuntabilitas pemerintah terhadap publik. Lingkungan kebijakan yang baru ini telah memaksa lembaga kesehatan ternak di negara-negara berkembang dan sedang berkembang untuk mencari pendekatan yang lebih desentralistik, berorientasi pelanggan, dan pembiayaannya efektif dalam memberikan pelayanan kesehatan ternak.
   
   
Melatih YANKESWAN dan Kader Kesehatan Hewan (TM11) - Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh petani berskala kecil di Indonesia dalam mengembangkan usaha peternakan, adalah sulitnya mendapat pelayanan peternakan, terutama kesehatan hewan. Sebagian besar petani tinggal di daerah terpencil, jauh dari tempat tinggal petugas kesehatan hewan yang dana transportasinya terbatas dan hanya memiliki sedikit obat-obatan atau peralatan. Dengan melatih petani pria maupun wanita yang telah dipilih oleh masyarakat (Pelayan Kesehatan Hewan berbasis Masyarakat) untuk memberikan pelayanan dasar kesehatan hewan dengan sedikit ongkos ganti rugi, pendekatan ini mencoba menghadapi tantangan dengan memberikan pelayanan yang berkualitas tinggi di pedesaan, dengan harga yang dapat dijangkau oleh petani.
Open Acrobat File for Printing Klik di sini untuk versi Acrobat
   
Pelatihan Inseminator Swasta (TM12) - Buklet ini merupakan panduan untuk fasilitator yang akan menuntun pelatihan bagi calon inseminator swasta. Didalamnya dijelaskan secara rinci langkah-langkah mulai dari persiapan (baik bahan pelatihan, fasilitator dan susunan ruangan), pelaksanaan, dan evaluasi pelatihan. Metode yang digunakan adalah metode pembelajaran bagi orang dewasa dan bersifat partisipatif. Materi inseminasi buatan yang dicakup adalah aspek teknik inseminasi, aspek manajemen (sumberdaya manusia, pelaksanaan program, evaluasi pelatihan), dan aspek administrasi. Sebagian besar materinya adalah praktek dengan sedikit teori.
   
   
Pelatihan Pemeriksa Daging Swasta  (TM13) - Buklet ini merupakan panduan untuk fasilitator yang akan menuntun pelatihan bagi calon pemeriksa daging swasta. Didalamnya dijelaskan secara rinci langkah-langkah mulai dari persiapan (baik bahan pelatihan, fasilitator dan susunan ruangan), pelaksanaan, dan evaluasi pelatihan. Metode yang digunakan adalah metode pembelajaran bagi orang dewasa dan bersifat partisipatif. Materi teknik pemeriksaan daging meliputi aspek teknik pemeriksaan baik ante mortem maupun post mortem, aspek kesehatan rumah potong dan aspek kesehatan masyarakat veteriner umum. Sebagian besar materinya adalah praktek dengan sedikit teori.
   
   
Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif (TM 14) - Sampai dengan saat ini, masih dirasakan berbagai kendala oleh berbagai pihak di dalam melakukan pelatihan partisipatif secara konsisten. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya "panduan lengkap" yang dapat dipergunakan sebagai suatu referensi. Selain itu, banyak sekali kegiatan pelatihan yang sedang dan telah dilakukan, baik di tingkat masyarakat, maupun aparat pemerintah, semuanya disusun, dirancang dan dibuat berdasarkan asumsi "pedagogis". Padahal kita ketahui bahwa pada umumnya pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap aparat pemerintah dan masyarakat, yang nota bene adalah "orang dewasa". Langkah-langkah konkrit untuk memperbaiki berbagai kelemahan yang ada selama ini, salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi malpraktek di atas serta dalam rangka meningkatkan kualitas pelatihan yang ada adalah melalui peningkatan kemampuan aparat, melalui pelatihan pelatih (Training of Trainers). Salah satu pelatihan untuk itu adalah pelatihan "Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif".
   
   
Mengelola Pelatihan Partisipatif (TM15) - Dalam mengelola pelatihan partisipatif, banyak pendekatan yang dapat dilakukan. Pendekatan-pendekatan tersebut meliputi Pendekatan Pengembangan Kelembagaan, Pendekatan Sistematis, Pendekatan Administratif, Pendekatan Kesejahteraan dan Pendekatan Politis. Masing-masing pendekatan tersebut mempunyai berbagai kekuatan dan kelemahan. Salah satu pendekatan yang sesuai untuk pelatihan partisipatif adalah “Pendekatan Pelatihan Sistematis” (Systematic Training Approach) yang diperinci menjadi 10 langkah utama yang perlu ditempuh dalam mengelola pelatihan. Pendekatan tersebut dilakukan sejak dari Penjajagan Kebutuhan Pelatihan sampai dengan Evaluasi Dampak Pelatihan.
   
   
Mengembangkan Bahan Informasi (TM16) - Buku Panduan ini merupakan Buku Pegangan Pelatih - yang lebih menitik beratkan pada proses daripada substansi isi - yang dapat dipergunakan sebagai alat bantu bagi para pelatih atau fasilitator “untuk menciptakan proses belajar” serta para penyuluh di lapangan dalam merancang dan menggunakan media-media penyuluhan. Dalam Buku Panduan ini dikemukakan beberapa pengalaman lokakarya atau pelatihan pengembangan bahan informasi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pegangan peserta lokakarya atau pelatihan.